TREIndonesia

Hilang Minat dan Motivasi? Bisa Jadi Tanda-tanda dari Kondisi Anhedonia

30 March 2021

Kehilangan minat untuk melakukan hal-hal yang biasanya disenangi, apa ini tanda-tanda anhedonia?

Ketika seseorang mengembangkan minat, maka dirinya tergugah untuk merealisasikan keinginannya dengan harapan untuk mendapatkan kesenangan. Minat dan kesenangan merupakan dua hal yang saling berkaitan. Dua hal tersebut, menjadi salah satu tolak ukur kebahagiaan.

Namun ketika seseorang tidak bisa menikmati aktivitas yang biasanya menyenangkan dan tidak bisa mencapai hal-hal yang membuatnya senang, maka seseorang orang tersebut kehilangan minat atau motivasi dalam dirinya. Kondisi ini bisa disebut anhedonia. 

Misalnya, menonton drama adalah hal yang paling disuka tetapi ketika dilakukan malah tidak merasa senang. Kondisi ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Dan perlu diketahui, kehilangan minat ini bisa termasuk normal, tapi bisa juga tidak. 

Menurut para pakar, pada suatu masa dalam hidupnya, sebagian besar orang akan mengalami kehilangan rasa ketertarikan terhadap hal-hal yang sebelumnya mereka minati. Namun, anhedonia (kehilangan minat) merupakan versi yang lebih ekstrem.

Anhedonia merupakan salah satu gejala depresi. Terjadinya anhedonia karena seseorang tidak mampu mempertahankan perasaan positif dari waktu ke waktu. Ketidakmampuan mempertahankan perasaan positif ini berkaitan dengan kerja otak manusia.

Sebuah penelitian menyatakan, seseorang yang mengalami depresi akan kesulitan untuk mempertahankan aktivitas pada NA yang berpengaruh pada menurunnya aktivitas pada PFC. Hingga, ia akan sedikit memberikan respon positif pada hal yang menyenangkan. Nucleus accumbens (NA) dan prefrontal cortex (PFC) yang mengatur motivasi dan apresiasi yang dirasakan manusia yang terdapat pada otak. 

Beberapa gejalanya antara lain:

  • Menarik diri dari lingkungan sosial

  • Adanya perasaan negatif terhadap diri dan orang lain

  • Ekspresi emosi berkurang, seperti bicara lebih sedikit atau emosi terlihat datar

  • Sulit menyesuaikan diri dalam situasi sosial

  • Memutus hubungan personal dengan orang lain

  • Mengalami gangguan fisik yang rutin, misalnya sering sakit

  • Ada tendensi menunjukkan emosi “palsu”, misalnya terlihat bahagia tapi sebenarnya tidak