TREIndonesia

Mengenal Emosi Palsu dengan Pura-pura Bahagia: ‘Anhedonia’

28 February 2021

Ketika seseorang kehilangan minat dalam kegiatan yang biasa mereka nikmati dan kemampuan yang menurun untuk merasakan kesenangan, ini biasanya dialami oleh penderita anhedonia. Simak penjelasannya...

Perasaan sedih seringkali membuat kita galau dan tidak bersemangat menjalani hari. Bahkan, kadang perasaan sedih itu bisa berlarut-larut dan akhirnya membuat kita merasa tak bahagia atau hilangnya motivasi. Hal itu perlu diwaspadai. 

Anhedonia berkaitan erat dengan depresi, namun tidak semua orang yang mengalami anhedonia mengalami depresi. Tapi, seseorang yang mengalami anhedonia bisa juga dapat mengalami kecemasan sosial.

Para ilmuwan menduga bahwa penyebab anhedonia adalah perubahan aktivitas otak. Seseorang dengan anhedonia memiliki masalah pada otak dalam hal memproduksi dan merespons dopamin, yang merupakan senyawa kimia dalam otak yang terkait dengan rasa senang.

Secara umum anhedonia dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu:

  • Anhedonia sosial, dimana ketertarikan pada kontak sosial dan kurangnya kesenangan dalam situasi sosial. 

  • Anhedonia fisik, dimana seseorang tidak menikmati sensasi fisik seperti makanan favorit berubah rasa menjadi hambar, berpelukan yang tidak memberikan rasa nyaman, dan lainnya. 

Biasanya, gejala dari anhedonia berupa:

  • Penarikan sosial, atau penarikan dari hubungan sebelumnya, 

  • Berkurangnya kemampuan emosional, termasuk memiliki ekspresi verbal atau nonverbal yang lebih sedikit, 

  • Kesulitan menyesuaikan diri dengan orang lain,

  • Kecenderungan menunjukkan emosi palsu, seperti berpura-pura bahagia, dll.

Lantas, bagaimana mengatasi anhedonia?

Penanganan anhedonia dapat menjadi sebuah tantangan. Tindakan yang dipilih harus disesuaikan dengan penyebab yang mendasari anhedonia itu sendiri, mengelola emosional dan atau meminta bantuan tenaga ahli profesional.