TREIndonesia

Merasa Mengalami Toxic Relationship? Yuk, Cari tahu di sini...

10 February 2021

Idealnya sebuah hubungan yang dijalani bersifat dua arah, melibatkan satu sama lain untuk saling membantu tanpa mengharapkan imbalan. Akan tetapi, tidak semua hubungan merupakan hubungan yang sehat.

Tentu semua orang ingin memiliki hubungan yang sehat, baik itu dengan keluarga, teman, pasangan bahkan rekan kerja.Hubungan sehat merupakan salah satu bagian penting dari kehidupan. Orang dengan hubungan sosial yang sehat cenderung memiliki kondisi fisik, mental dan berperilaku. 

Namun sebaliknya, hubungan yang tidak saling mendukung tidak saling menghormati bahkan menimbulkan kekerasan baik secara fisik atau emosional jelas tidak sehat. Kondisi tersebut menandakan adanya toxic relationship.

Seperti apa toxic relationship?

Lillian Glass, seorang ahli komunikasi dan psikologi California menciptakan istilah toxic pada tahun 1995. Dalam bukunya yang berjudul Toxic People, Glass menuliskan: 

"Setiap toxic relationship (hubungan beracun) adalah mereka yang tidak saling mendukung, ketika ada konflik salah satunya akan berusaha merusak yang lain, di mana ada persaingan, rasa tidak hormat dan kurangnya kerjasama".

Toxic relationship itu dapat menyebabkan kesulitan dalam menjalani aktivias sehari-hari dengan produktif. Banyak kasus, indikator hubungan toxic adalah ketidakbahagiaan yang terus-menerus. Selain itu, kenali ciri-ciri hubungan toxic, antara lain:

  • Memiliki kendali penuh; mengambil kebebasan seseorang atas apa yang ia ucapkan atau lakukan,

  • Membuatmu jauh dari keluarga atau teman,

  • Sulit berkomunikasi,

  • Tidak jujur,

  • Tidak saling mendukung,

  • Stres Berkepanjangan,

  • Merasa tidak aman,

  • Sikap tidak menghargai, dsb.

Faktanya, tidak sedikit individu yang terjebak dalam toxic relationship. Liz Reed, seorang pekerja sosial klinis, dan psikoterapis, spesialis dalam mengatasi kecemasan dan depresi, menjelaskan:

"Orang yang melakukan hubungan toxic ini tidak bisa memberikan dukungan. Bahkan, mereka bisa terputus secara emosional. Mereka cenderung menginginkan hal-hal tertentu dari Anda. Kemudian, Anda akan menemukan diri menjadi seseorang yang tidak diinginkan saat berada di sekitar mereka.”

Sayangnya, kondisi ini sering kali tidak disadari, sampai pada suatu titik dimana seseorang mulai merasa cemas, marah-marah, depresi dan mulai menyadari hubungan ini tidak sehat lagi. 

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Umumnya toxic ini merupakan istilah orang yang manipulatif, dia yang melakukan kesalahan tapi menyalahkan orang lain, tidak mampu meminta maaf, sifatnya sangat egosentris. 

Agar terhindar dari toxic, dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, seorang Dokter Psikiater di Siloam Hospitals Bogor mengingatkan ada beberapa prinsip dan konsep yang perlu diingat, yaitu:

  1. Memiliki self-esteem yang baik

  2. Segera identifikasi hubunganmu dengan menyadari ciri-ciri dari toxic relationship

  3. Jarang berharap orang akan berubah, karena perilaku orang lain bukan tanggung jawab kamu. Kamu tidak akan bisa mengubah orang yang toxic, karena ia perlu melakukan refleksi.

  4. Menjaga jarak dan menjadi diri dari orang toxic