TREIndonesia

Mitos atau Fakta? Merokok Bisa Menghilangkan Stres atau Bukan?

18 January 2021

Terhindar dari stres, salah satu alasan seseorang memilih untuk merokok. Tapi, apakah benar dengan hal tersebut?

"Saya merokok untuk menghilangkan suntuk dan stres."

Pernah mendengar kalimat tersebut? Beberapa orang merokok seringkali dijadikan pelarian untuk mengatasi stres. Menurut sebuah survei telah mengungkap bahwa pria biasanya merokok untuk bersenang-senang, sementara wanita untuk meredakan perasaan stres. 

"Bagi wanita, merokok adalah cara untuk meredakan stres. Ada efek psikologi yang mereka dapatkan dari merokok. Rokok memberikan manfaat bagi mereka secara psikologis untuk menenangkan diri. Untuk itu mereka lebih mudah kecanduan pada rokok," ungkap psikolog perilaku Jo Hemming.

Ketika merokok, nikotin memasuki aliran darah dan mengalir ke otak. Dimana otak akan melepaskan beberapa neurotransmitter, termasuk dopamin. Perasaan positif yang dialami ketika dopamin dilepaskan biasanya hanya terasa singkat. Setelah tingkat dopamin menurun, seseorang akan merasa lebih buruk daripada sebelum merokok.

Akhirnya, dapat menyebabkan stres yang lebih meningkat, sehingga dapat mengganggu sistem pernapasan dan dapat berkontribusi mengakibatkan penyakit serius, seperti meningkatkan tekanan darah, detak jantung, otot menegang, pembuluh darah mengerut, serta penurunan oksigen di otak dan tubuh.

Jadi, jangan menganggap merokok bisa membantu menghilangkan stres. Bukti medis menunjukkan bahwa merokok tidak menenangkan. Ini hanya efek sementara nikotin yang memberikan rasa tenang sesaat. Setelah itu jika sudah selesai merokok, stres akan kembali lagi. 

Untuk membantu seseorang mengatasi stres ketika ingin berhenti merokok, yaitu dengan....

• Selalu konsisten untuk berhenti dari kebiasaan merokok

• Mengenali tanda-tanda stres

• Melakukan kegiatan yang menyenangkan

• Melakukan aktivitas fisik

• Melakukan relaksasi

• Bersabar dan optimis