Banyak dari kita yang saat sedang stres, cemas, atau burnout, mencoba menyelesaikannya melalui pikiran. Kita mencoba bermeditasi, melakukan afirmasi positif, atau memaksa diri untuk “berpikir tenang”.
Namun, pernahkah Anda merasakannya: Semakin Anda menyuruh pikiran Anda tenang, pikiran itu justru semakin berisik? Semakin Anda mencoba meditasi, Anda justru semakin gelisah karena tubuh Anda terasa ingin “meledak”?
Ini terjadi bukan karena Anda gagal melakukan tekniknya, tapi karena Anda mencoba memperbaiki sistem melalui “Pintu Depan” yang sedang terkunci rapat.
Komunikasi 80/20: Tubuh Lebih “Berisik” dari Otak
Selama ini kita mengira otak adalah bos yang memberikan perintah ke seluruh tubuh. Namun, ilmu saraf modern melalui Teori Polivagal (Dr. Stephen Porges) mengungkap fakta yang mengejutkan:
80% serat saraf kita (terutama Saraf Vagus) mengirimkan informasi dari Tubuh ke Otak, sementara hanya 20% yang mengirimkan sinyal dari Otak ke Tubuh.
Artinya, jika tubuh Anda sedang dalam kondisi tegang, fascia menciut, dan otot psoas terkunci (seperti yang kita bahas di artikel sebelumnya), tubuh akan terus-menerus mengirimkan sinyal ke otak: “KITA DALAM BAHAYA! JANGAN TENANG!”.
Sekuat apapun otak Anda mencoba berpikir positif (20% sinyal), ia akan kalah telak oleh teriakan bahaya dari tubuh Anda (80% sinyal).
Mengapa Meditasi Terasa Berat Saat Kita Trauma?
Dalam kondisi stres kronis, tubuh kita terjebak dalam mode Survival. Saat Anda mencoba duduk diam untuk meditasi tanpa melepaskan ketegangan fisik terlebih dahulu, Anda sebenarnya sedang memaksa pikiran untuk tenang di dalam wadah yang sedang “kebakaran”.
Inilah alasan mengapa banyak profesional merasa meditasi justru membuat mereka frustrasi. Pikiran tidak bisa tenang jika “kabel” di sistem saraf otonom Anda masih mengalami korsleting. Anda tidak bisa menyuruh lampu berhenti berkedip jika arusnya belum diperbaiki.
Mengakses “Pintu Belakang”: Pendekatan Bottom-Up
Jika “Pintu Depan” (Logika/Pikiran) sedang macet, kita harus menggunakan “Pintu Belakang” (Tubuh). Dalam dunia psikologi somatik, ini disebut sebagai pendekatan Bottom-Up.
Alih-alih memaksa pikiran untuk tenang agar tubuh rileks, kita melakukan hal sebaliknya: Kita buat tubuh rileks secara fisik terlebih dahulu agar otak tidak punya pilihan lain selain ikut tenang.
Saat ketegangan di fascia dilepaskan melalui gerakan dan getaran alami (TRE®), Saraf Vagus akan mulai mengirimkan pesan baru ke otak: “Lapor, semua otot sudah rileks. Bahaya sudah lewat. Sekarang aman untuk beristirahat.” Begitu otak menerima pesan ini, rasa cemas Anda akan hilang secara instan tanpa perlu Anda paksa.
Sinergi Para Master: Meretas Sistem Saraf secara Total
Inilah mengapa metode yang dibawa oleh Dr. David Berceli, Simba, Chris Balsley, dan Hindra Gunawan sangat efektif. Mereka tidak meminta Anda untuk bercerita atau menganalisis masalah Anda selama berjam-jam.
-
- Chris Balsley memahami bagaimana struktur tubuh mempengaruhi kepemimpinan dan ketangguhan mental.
- Simba meretas jalur energi dan fascia agar arus informasi di tubuh kembali lancar.
- David Berceli memberikan kunci untuk memicu getaran yang memutus sinyal bahaya dari saraf pusat.
- Hindra Gunawan memberikan pelepasan ketegangan tubuh sesuai karakter orang Indonesia
Mereka bekerja pada level biologis—langsung pada akarnya—sehingga pemulihan yang Anda rasakan bukan hanya sekadar sugesti, melainkan perubahan nyata pada kimia tubuh Anda.
Kesimpulan: Berhenti Berdebat dengan Pikiran Anda
Pikiran Anda adalah cerminan dari kondisi biologis Anda. Jika Anda ingin mengubah pikiran, ubahlah kondisi jaringan tubuh Anda terlebih dahulu. Berhenti mencoba “berpikir positif” di atas sistem saraf yang sedang lelah. Gunakan “Pintu Belakang”, dan biarkan tubuh Anda membimbing Anda menuju kedamaian.
Di artikel penutup besok, kita akan melihat apa yang sebenarnya terjadi secara fisik saat tubuh melakukan “Self-Correction” melalui getaran, agar Anda tidak lagi bingung atau takut saat melihat fenomena pemulihan ini secara langsung.